15 Mar 2015

Bekasi Terpilih Sebagai Ibukota Negara

Sebulan yang lalu, aku cengengesan di atas kasur sambil megang hape. Gak lama kemudian, ibu dateng.

Ibu    : Kamu dapet SMS dari pacar, ya?
Aku   : Nggak, kok. Beneran.
Ibu    : Jangan bohong, ibu bisa liat dari wajahmu.
Aku   : Tap… uh, beneran. Kalau nggak percaya, cek aja sendiri.
Ibu    : Males.
Aku   : Hmm *menyilangkan kedua tangan*
Ibu    : Denger ya, Han. Kamu nggak boleh pacaran!
Aku   : ……….
Ibu    : Kalo berani pacaran, ibu bakal ambil hapemu. Titik, gak pake koma!
Aku   : Tap..
Ibu    : Ibu bilang, gak pake koma!

Aku nunduk, padahal kenyataannya aku lagi WhatsApp-an sama Ari, temen lamaku. Dan lagi, dia ini cowok tulen—saking cowoknya, dia pernah berangkat sholat Jum’at dengan pakaian: baju hitam bermotif tengkorak yang bertulisan ‘Anak funky nggak doyan kentucky’.
Gaul maksimal.

Sehari setelahnya—ketika aku lagi asik nyampul sebagian novelku, ibu datang mendekat.

Ibu    : *melotot ke arah novel*
Aku   : *celingukan*
Ibu    : *narik napas* Itu kamu yang nyampul, Han?
Aku   : *ngangguk dua kali*
Ibu    : Jawab pake mulut, jangan pake kepala.
Aku   : Iya, Bu. Iya. Ini aku yang nyampul.
Ibu    : Hmm. *tatapannya semakin tajam*
Aku   : Kenapa?
Ibu    : Jelek banget, sih.
Aku   : Maklum, Bu. Namanya juga cowok.
Ibu    : Nah, itu! Makanya, kamu cari pacar dong. Biar..
Aku   : Biar apa, Bu?
Ibu    : Biar ada yang bantuin kamu nyampul buku!
Aku   : Cuma itu aja?
Ibu    : Iya!
Aku   : Tapikan, waktu itu ibu bilang, kalau aku gak boleh pac…..
Ibu    : Sst! *pergi ke dapur dalam jeda waktu satu mili-detik* *Menghilang*

7 Mar 2015

Perbaiki Saja Aku

“Izinkan aku menjadi yang terbaik untukmu. Jika aku belum benar, jangan pergi. Perbaiki saja aku.”


Banyak yang beranggapan jika menunggu adalah kegiatan tanpa bayaran paling membosankan. Aku setuju, pada penekanan ‘tanpa bayaran’, tapi aku menolak, jika semua hal barusan dikatakan paling membosankan. Karena menurutku, menunggu adalah kegiatan sukarela yang sangat mendebarkan..

… jika hal itu kulakukan untukmu.

Beberapa tahun yang lalu, aku bertemu seorang gadis yang memiliki mimpi besar. Seorang gadis yang ketika kau menatapnya, kau akan merasakan ketegangan penuh tanda tanya. Gadis itu sangat manis, jauh lebih manis dari buah ara di Timur-Tengah. Dan ketika menyunggingkan sebuah senyuman, ia tampak bagaikan seorang bayi yang baru pertama kali menatap awan melalui celah pada jendela rumah. Bahkan, ketika sedang menangis, kecantikan gadis itu tak berkurang sedikitpun; ia masih cantik, seperti seharusnya.

Dan saat ini—ketika aku menyadari semua hal yang kusebutkan tadi—aku mulai bertanya pada semesta alam, apakah gadis sepertimu diciptakan hanya untuk membuatku kagum? Karena sampai detik ini, aku hanya bisa mengagumimu melalui perangkat virtual, dan mencoba memberikan perhatian tertutup dengan cara merahasiakan sebuah nama yang tertulis pada profilku.

Dalam hal ini, kau boleh menyebut diriku sebagai pria yang lemah, tapi untuk hal lain? Sepertinya kau harus membaca kisahku hingga usai.

Suatu malam, di persimpangan jalan Bekasi, kita bertatap wajah untuk pertama kalinya. Cahaya lampu di tepi jalan memantulkan efek cahaya pada wajahmu. Membiaskan nuansa jingga pada kening dan pipimu. Meredup dan menyala dalam hitungan detik, seakan menampilkan sebuah getaran hebat yang tercipta karena pertemuan rahasia ini.

Aku memberanikan diri untuk mendekatimu, dan berkata, “Hai.”

13 Feb 2015

Untuk Kecantikan Abadiku

Ibuku pernah bilang, “Kalo kamu jatuh cinta, tulis sebuah surat. Kalo kamu memendam cinta, simpan sebuah surat.

Awalnya aku kurang paham dengan ucapan ibu. Kata ‘simpan’ di sini memiliki arti yang ganda; pertama, simpan bisa berarti disembunyikan; kedua, simpan bisa berarti kemunculan-yang-sedikit-ditunda.

Sampai pada akhirnya ibu melanjutkan, “Simpan, demi kebaikanmu kelak.

Simpan, demi kebaikanmu kelak. Yeah! Itu tandanya ‘simpan’ memiliki arti yang cukup baik. Eufemisme dari kata harapan. Maksudku, suatu saat nanti, surat ini akan dibuka dan dibaca oleh seseorang yang namanya tercantum dalam kalimat yang kita rangkai tersebut. Jadi aku menatap wajah ibu, lalu berkata dengan suara parau, “Bu, aku mau nulis surat untuk calon istriku.”

Ibu menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. “Silahkan,” katanya. “Jangan membuat calon istrimu menunggu.”

Aku mengangguk—berpaling dari wajah ibu, kemudian mengambil sebuah pena, dan selembar kertas putih bergaris. Lalu, pada detik itu juga, aku mulai menulis sebuah surat.


1 Jan 2015

Jadilah Superhero Untuk Dirimu Sendiri

        “Gue baru tau, kalo ternyata di Amsterdam itu suhunya dingin banget, ya? Apalagi di pusat kotanya, astagaaaaaa, bikin merinding!” kata mahasiswi modis yang selalu heboh sama apa aja yang berhubungan dengan Eropa, Amerika dan hal-hal lain yang baginya luar biasa.

        “Masa, sih? Tadinya gue pikir Bandung itu kota paling dingin, eh, ternyata nggak. Padahal gue aja kudu pake jaket jeans lapis tiga kalo kesana, khususnya di Lembang, tuh,” respon wanita sederhana bernama Nara, sahabat mahasiswi modis barusan, sembari membuka halaman per-halaman novel And Then There Were None karya Agatha Christie yang sedari tadi dipegangnya.

        “Alaaaaaa, itu sih karena elo-nya aja kampungan. Tidur di kamar ber-AC aja, langsung flu. Makanya, biasain hidup di tempat-tempat dingin. Besok bilang ke nyokap-bokap lo, kalo di luar sana, ada Negara yang namanya Islandia! Disana dingin banget. Percaya, deh!” Sembur mahasiswi modis yang makin lama, makin ngeselin, “Eh, tapi…..”

        “Tapi kenapa?”

        “Tapi gue takut aja. Takut kalo mati kaku disana. Beneran. Coba aja lo pikir, pergi ke Bandung aja, elo kudu pake jaket jeans berlapis-lapis, apalagi ke Islandia? Bisa-bisa elo berpakaian ala tentara Eropa Barat abad pertengahan. Serba besi!”

        “Astagaaaa, lagian bokap ama nyokap gue nggak bakal ngizinin kok. Apalagi ongkos ke Islandia kan mahal. Nggak cukup barang seribu ato dua ribu perak!” timpalnya ketus, “PUAS LO?!”

        “Duile kasihan amat sih lo. Dasar, perempuan miskin penuh kebanggaan!” Mahasiswi sengak itu ngedorong pundak Nara, sampai novel yang sedari tadi dipegangnya terlempar jatuh, “Eh, buku apa, tuh? Resep makanan ya?”