“Izinkan aku menjadi yang terbaik untukmu. Jika aku
belum benar, jangan pergi. Perbaiki saja aku.”
Banyak
yang beranggapan jika menunggu adalah kegiatan tanpa bayaran paling
membosankan. Aku setuju, pada penekanan ‘tanpa bayaran’, tapi aku menolak, jika
semua hal barusan dikatakan paling membosankan. Karena menurutku, menunggu
adalah kegiatan sukarela yang sangat mendebarkan..
…
jika hal itu kulakukan untukmu.
Beberapa
tahun yang lalu, aku bertemu seorang gadis yang memiliki mimpi besar. Seorang
gadis yang ketika kau menatapnya, kau akan merasakan ketegangan penuh tanda
tanya. Gadis itu sangat manis, jauh lebih manis dari buah ara di Timur-Tengah.
Dan ketika menyunggingkan sebuah senyuman, ia tampak bagaikan seorang bayi yang
baru pertama kali menatap awan melalui celah pada jendela rumah. Bahkan, ketika
sedang menangis, kecantikan gadis itu tak berkurang sedikitpun; ia masih
cantik, seperti seharusnya.
Dan
saat ini—ketika aku menyadari semua hal yang kusebutkan tadi—aku mulai bertanya
pada semesta alam, apakah gadis sepertimu
diciptakan hanya untuk membuatku kagum? Karena sampai detik ini, aku hanya
bisa mengagumimu melalui perangkat virtual, dan mencoba memberikan perhatian
tertutup dengan cara merahasiakan sebuah nama yang tertulis pada profilku.
Dalam
hal ini, kau boleh menyebut diriku sebagai pria yang lemah, tapi untuk hal
lain? Sepertinya kau harus membaca kisahku hingga usai.
Suatu
malam, di persimpangan jalan Bekasi, kita bertatap wajah untuk pertama kalinya.
Cahaya lampu di tepi jalan memantulkan efek cahaya pada wajahmu. Membiaskan
nuansa jingga pada kening dan pipimu. Meredup dan menyala dalam hitungan detik,
seakan menampilkan sebuah getaran hebat yang tercipta karena pertemuan rahasia
ini.
Aku
memberanikan diri untuk mendekatimu, dan berkata, “Hai.”