2 Nov 2016

Negaraku Tidak Lagi Teduh

Muhammadku..
Akankah syurga tergenang air matamu ketika
Melihat umatmu sibuk berseteru?
Kami tak lagi mampu bersahabat ketika
Ayat dibedah beribu pendapat.

Muhammadku..
Apakah kita perlu melawan
Angan-angan kebenaran para tokoh berkepentingan?
Mereka, yang bersenggama dengan agama
Membungkus Qur’an dalam sampul kebencian.

Kitab suci yang tersimpan dalam laci,
Hanya dibaca ketika perlu membela.
Keutuhan sabda indah sengaja dibelah
Menjadi potongan kata yang menyulut amarah.

19 Agu 2016

Terbelenggu Kekeliruan

Libur akademik mengistirahatkan saya dari berbagai rutinitas harian. Satu-satunya kegitan yang, setidaknya, menurut saya bermanfaat hanyalah membantu ibu melayani pesanan pelanggan. Sudah hampir sebulan kami membuka usaha kuliner di rumah. Hasilnya bisa dibilang lumayan. Setidaknya lebih baik ketimbang hanya berdiam diri dan bermain gadget di kamar.

Rabu kemarin kami tidak menerima pesanan sama sekali. Ibu saya hanya duduk di ruang tamu sambil menonton acara yang menurutnya menarik. Sedangkan saya duduk di pelataran rumah sambil membaca buku. Dalam buku tersebut saya menemukan kalimat yang membuat saya terenyak sesaat. ‘Do we really exist?

Saya meletakkan pembatas buku di halaman terakhir yang saya baca. Kemudian menutup dan menaruhnya di atas dada. Kembali pada lamunan yang tercipta karena kalimat sebelumnya. Apakah kita benar-benar ada? Atau… apakah orang lain selain saya adalah objek material? Hologram? Atau semua yang ada di dunia ini hanyalah mimpi panjang kita di alam sesungguhnya?

Saya menampar pipi kanan sebanyak dua kali, kemudian merebahkan tubuh dan memandang kosong ke arah langit malam. Tenggelam oleh lamunan pertanyaan.

Hari Jum’at-nya saya berkunjung ke Rumah Sakit daerah Bekasi. Kaki kanan adik saya patah karena jatuh dari sepeda. Lututnya terbentur aspal sehingga tempurungnya pecah. Saya dan ibu terpaksa menolak pesanan pelanggan. Waktu kami hanya dihabiskan di dalam kamar berisi tiga manusia yang sedang merintih kesakitan.

24 Jul 2016

MOS dan Kesetaraan Pelajar

Apa yang terbayang di benak kalian ketika mendengar kata MOS?

MOS adalah tiga huruf hasil kependekan dari Masa Orientasi Siswa. MOS adalah tiga huruf yang selalu membayangi pikiran anak dan orang tua. MOS adalah tiga huruf yang sampai sekarang keberadaannya dianggap sebagai kegiatan menakutkan. Lantas, mengapa sampai sekarang kegiatan MOS masih diadakan oleh banyak instansi pendidikan? Mengapa tidak dihilangkan saja dan diganti dengan kegiatan yang lain?

Ini jawabannya: karena MOS sudah menjadi budaya dalam pendidikan nusantara.

Berbicara tentang MOS, saya menjadi manusia yang menolak rencana pemerintah menghapus kegiatan ini. Bukan karena saya ingin balas dendam karena dulu mendapat perlakuan mengerikan dari senior, tapi setelah diperhatikan lebih jeli lagi saya melihat adanya hal baik dalam kegiatan ini. Namun, tentu saja, dengan batasan-batasan wajar.



Ketika masuk SMP dulu, saya memiliki cerita menarik tentang MOS. Dan hal ini yang kemudian memberi keyakinan pada saya bahwa MOS harus tetap ada. Kalau ingin diperbaiki boleh, asal jangan sampai dihilangkan.

Waktu itu hari Senin awal bulan Juli. Seluruh calon siswa sudah berkerumun di depan pintu gerbang, menanti-nanti kapan penjaga akan membukanya.

Saya sudah menunggu di dekat pohon besar yang berada di seberang pintu gerbang. Dengan kaos kaki warna-warni, sendal beda corak, kalung yang terbuat dari bahan-bahan aneh, dan mahkota kertas, saya berdiri mematung sambil membayangkan betapa malunya saya hari itu. Karena di saat teman-teman datang ke sekolah diantar oleh orang tua, saya datang menaiki sepeda. Sehingga sepanjang perjalanan dari rumah sampai sekolah semua yang melihat saya bisa bebas menertawakan. “Mau pergi ke mana lu, tong? Sirkus?” kemudian diikuti oleh gelak tawa yang terkesan meledek. Jancuk!

28 Mei 2016

Saya Tidak Tega

Sang Pencipta tidak hanya mengukir perasaan manusia dengan moral, tapi juga mengikatnya dengan naluri yang sanggup membedakan mana perilaku baik dan mana perilaku buruk.

Hari ini saya adalah muslim. Besok, lusa, dan tahun-tahun berikutnya, inshaa Allah, saya tetap menjadi muslim. Agama saya senantiasa memerintahkan penganutnya untuk berperangai baik. Kepada siapapun; kepada golongan apapun.

Anjuran berbuat baik juga disiarkan oleh agama samawi lain, seperti Yahudi dan Nasrani. Kitab mereka, melalui suara-suara yang mereka percaya sebagai sabda Tuhan, menekankan pada kedamaian dan keamanan dalam berkehidupan.

Begitu juga dengan agama budaya, dan agama lain yang muncul pada peradaban-peradaban baru, semua selalu berbicara tentang perbuatan baik kepada sesama manusia. Hal ini yang menuntun saya pada sebuah konklusi, bahwa ‘kemanusiaan’ adalah agama paling hakiki di muka bumi.

Namun ada keganjilan yang hingga detik ini memaku keislaman saya: tentang posisi mereka—manusia baik yang tidak beragama islam—di hadapan Tuhan Semesta Alam. Apakah naluri kemanusiaan kita sangup tega, ketika melihat tubuh manusia baik terbakar api karena tak memeluk agama Illahi? Jika iya, berarti agama adalah simbol perpecahan yang mengkubukan manusia berdasarkan golongannya, bukan perilaku atau moralnya.

Semester lalu, saya sempat menghadapi kebingungan hebat. Ketika tenggat waktu pembayaran SPP kian terpangkas menuju batas akhir, saya tidak juga tenang. Sebab masih ada kekurangan administrasi yang harus terlunasi. Jika uang tidak lekas dibayarkan, maka kesempatan saya mengikuti Ujian Semester akan musnah, terkubur oleh tanah. Sungguh saya sudah berdo’a pada Allah untuk diturunkan rezeki yang masih bergelayut di atas langit. Namun, rezeki itu tidak juga jatuh. Sampai akhirnya, seorang teman di kampus menawarkan saya pekerjaan. Namanya Anissa, teman satu fakultas, seorang gadis pemeluk agama Nasrani. Dengan kebaikan hatinya tersebut, semua kegelisahan saya akhirnya tertolong. Syukur, syukur, alhamdulillah.