Orang bilang, laki-laki cuma butuh waktu 4 detik untuk
jatuh cinta. Awalnya, gue gak setuju. Sampe sekitar tahun 2009, pandangan itu
perlahan berubah.
Semua berawal ketika gue duduk di bangku SMP. Waktu
itu, sifat gue nggak jauh beda dari sekarang; pendiem, tertutup, introvert, dan
penyendiri. Makanya, tiap kali duduk, gue selalu milih deretan kursi paling
ujung. Bener-bener ujung. Biar nggak ada temen lain yang ganggu konsentrasi
belajar gue.
“Boleh duduk bareng nggak?” salah satu murid berbadan
besar menawarkan diri. Seragamnya rapi, seolah-olah seragam sekolah memiliki
tingkat keformalan paling tinggi di jagad raya. “Kok diem aja? Jawab dong.”
Gue geleng-geleng, karena ngerasa anak ini kurang asik
diajak diskusi.
“Maap,” kata gue. “Udah ada yang ngisi.”
“Siapa?” tanya dia sambil celingukan kiri-kanan.
“Itu,” gue nunjuk asal ke salah satu murid yang lagi
asik berdiri di ambang pintu. “Sama dia—yang berdiri di sana.”
Si gendut maju dua langkah ke belakang, wajahnya
berubah merah. Dan, dengan satu kali hentakan kaki, dia ngelempar tas
punggungnya ke meja sambil teriak, “Belagu lo, cupu!”
Gue dikatain cupu.
Tapi nggak marah.
Karena………...
yah,
gue emang cupu.
SO WHAT?!