7 Apr 2018

Benarkah Bicara Politik Membuat Kita Terlihat Menarik?

Belakangan ini hidup serba diukur menggunakan politik. Mau berteman, harus dengan yang sama. Beda jagoan politik, kita dimusuhi. Mau diam tak peduli, dituduh tidak punya pendirian. Hidup jadi serba bersebrangan.

Pilkada Jakarta hajat paling gila. Pernah suatu hari saya makan bersama teman-teman di kedai bakso pinggir jalan. Obrolan kita penuh canda, sebelum akhirnya mereka bicara politik. Saya tak acuh, mereka penasaran. “Bagaimana tanggapannya, Han?” Saya memberi tanggapan malah dituduh yang bukan-bukan. Hari berikutnya, di tengah suasana yang sama, saya tetap tak acuh. Kali ini dengan penekanan: apapun yang mereka tanyakan, saya tetap diam. Langkah ini juga keliru, saya dituduh apatis. Manusia tanpa pendirian.

Lalu, saya harus apa?
Menancapkan garpu ke mata saya?!?!

Reaksi di media sosial juga sama—semua serba saling menyudutkan. Pendukung A merasa pilihannya yang terbaik, siapapun yang tidak sama dengannya adalah sampah. Pendukung B tidak terima, mereka balas hujatan dengan hujatan lain. Ibarat perkelahian: saling bergantian menyerang hanya akan melukai keduanya.

18 Jan 2018

Mikrofon Pelunas Hutang

Agaknya semua saluran televisi memiliki pakem yang sama dalam membuat suatu program: apakah ini menjual?

Di negara kita—yang masyarakatnya selalu ingin tahu urusan orang lain—program yang menampilkan sisi emosi dengan urai air mata tentu akan sangat menjual. Ihwal rahasia seperti kemiskinan, perceraian, dan kehilangan, saat ini tak lagi disimpan dalam pembicaraan rumah, melainkan menjadi konsumsi publik yang siapapun bisa menyaksikannya.
Yang terbaru: Mikrofon Pelunas Hutang.

Mengambil konsep ‘bantuan sosial’, program yang tayang setiap sore ini sebenarnya memiliki misi yang baik: melunasi hutang peserta. Meskipun saya tak mengerti, nominal hutang para peserta bersumber dari mana.

Yang saya mengerti: semakin banyak hutang peserta semakin banyak mikrofon yang dihadapi. Hal ini tentu menambah sulit peserta menentukan mikrofon sebelah mana yang hasilkan bunyi.
Apabila salah pilih, hutangnya gagal terlunasi.

Di balik nilai sosial yang sesungguhnya amat baik, pelbagai program yang membawa konsep sejenis Mikrofon Pelunas Hutang memiliki satu cedera yang mengkhawatirkan: tangis yang dianggap sebatas obyek—ia terpisah dari duka dan manusia itu sendiri, sehingga dampaknya juga tak kalah mengkhawatirkan: komoditas. Tangisan dalam program tersebut adalah peluang menghimpun banyak rupiah.

21 Mei 2017

Membangun Kesan di Pertemuan Pertama

Pertemuan pertama tidak pernah mudah, apalagi dengan orang yang kita anggap penting dan memiliki daya tarik yang kuat.

Sudah lebih dari sekali saya bertemu orang yang saya kenal di media sosial. Pertemuan pertama menjadi bagian paling rumit dan penuh pertimbangan. Banyak sekali pertanyaan yang mengawang-awang di kepala, seperti: “Bagaimana cara terbaik membuka percakapan?” atau, “Apakah saya cukup pandai membaca situasi?”

Kalimat-kalimat senada justru sering muncul ketika kamu sudah terlanjur membuat janji. Terlalu bodoh kalau tiba-tiba kamu membatalkannya.

Dalam menghadapi situasi seperti ini, kamu jangan terlalu panik, apalagi sampai menunda-nunda pertemuan. Kamu bisa menghadapinya dengan berbagai cara. Bukan berarti kamu harus berlagak palsu, atau mengubah sesuatu yang sejatinya sudah melekat dalam dirimu. Setiap orang (tentu saja) memiliki caranya masing-masing dalam membangun sebuah impresi. Aku dan kamu belum tentu sama. Namun, tips di bawah ini mungkin bisa kamu jadikan referensi dalam membangun impresi pertama yang baik.

1.     Utamakan menyimak terlebih dahulu.

Ketika memulai obrolan biarkan lawan bicaramu yang memilih topik. Kamu hanya perlu menyimak dengan atensi yang baik dan pandangan yang lekat-lekat. Buatlah ia merasa bahwa ceritanya adalah cerita paling menarik yang pernah kamu dengar, meski sebenarnya kenyataannya tidak begitu. Saya tidak menyebut hal itu sebagai bentuk kepura-puraan, tapi lebih kepada menghargainya sebagai pencerita.

Banyak orang gagal menciptakan kesan baik karena salah memilih topik. Belum apa-apa sudah sok tahu, merasa menguasai segala hal. Kamu harus menyadari bahwa tidak semua orang menyukai obrolan intelek. Setiap orang memiliki kapasitasnya masing-masing. Mereka yang suka sastra mungkin akan geleng-geleng kepala ketika kamu ajak bicara perihal mesin. Begitupun sebaliknya.

Tapi rasanya masih aman kalau lawan bicaramu diam karena ia tidak paham. Beda lagi kalau ia diam karena pemahamannya ternyata lebih baik darimu, sehingga ia merasa bahwa celotehanmu hanyalah guyonan tanpa bobot. Ia diam, menjaga diri untuk tidak membuatmu rendah.

Maka cobalah kamu pahami lawan bicaramu. Berusahalah tidak berlebihan dalam mengutarakan sesuatu. Sewaktu ia bertanya, jawablah seperlunya, tanpa mengurangi sisi menarik dalam dirimu. Hindari obrolan seputar ideologi, politik, agama, dan filsafat di pertemuan pertama. Mulailah bicara soal minat, hobi, dan hal lain yang ia sukai. Semua itu demi memberinya kesan bahwa kamu pribadi yang memiliki cukup empati.

26 Jan 2017

Pasangan yang Gemar Membaca



Rasanya aku ingin sekali berlibur ke Amsterdam: jalan-jalan santai di tepian kanal, berkunjung ke Rijksmuseum, atau sekedar menghabiskan sore di Vondelpark.
Tapi Belgia juga indah. Mereka punya Brussel. Aku bisa ngopi-ngopi cantik di Place St. Gerry. Sepulangnya, aku bersepeda melintasi Rue Neuve. Setiap akhir pekan mereka menjual barang-barang murah!
Lalu, bagaimana dengan Amerika Serikat? Meski kebanyakan pengunjung memilih kota-kota ramai sebagai tujuan berwisata, aku justru menyukai kota tenang seperti North Carolina. Manusia macam apa yang tidak mengagumi desa secantik Southport! Kano yang berbaris di tepian danau  itu benar-benar mengagumkan!
Selanjutnya aku akan pergi ke—hei, tunggu dulu! Bagaimana aku bisa berkunjung ke tempat-tempat indah, sementara bekerja saja belum?!

“Solusinya sederhana, kok: baca saja buku.
…. Kamu bisa menjelajah dunia dengan biaya tak seberapa!”

***

Sebenarnya tulisan ini didasari dari sebuah percakapan kecil. Waktu itu Sabtu sore. Aku duduk di meja kayu berdua bersama seorang teman. Dia memesan teh hangat, sebab cuaca memang sedang dingin-dinginnya. Aku berusaha menghormati pilihannya dengan memesan minuman yang sama. Padahal, kalau boleh jujur, aku lebih menyukai kopi hitam!

Baiklah, lupakan tentang minuman. Jadi, di tengah-tengah obrolan tentang perpolitikan negara kita yang sedang carut-marut, temanku tiba-tiba berkata, “Farhan, saya yakin kalau masalah yang sedang kita hadapi ini sebenernya tentang kesalahpahaman. Atau mungkin, tentang keyakinan yang terus-terusan didesak oleh pemahaman golongan?” mendengar itu, aku mengangguk yakin. Masyarakat kita memang belum bisa berpikir mandiri. Suara-suara sumbang, yang bersumber dari satu golongan, selalu dipercaya sebagai suara kebenaran. Apapun itu, entah baik atau buruk, terima saja. Konsekuensi soal nanti, yang utama adalah kolektivitas. Begitu pikir mereka.

Tak lama setelahnya temanku kembali melanjutkan, “Mungkin karena mereka kurang membaca buku?”

“Bisa jadi.” Jawabku singkat.